NOVEL PERJUANGAN: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 5 Bunga Anggrek itu Telah Timbul

NOVEL PERJUANGAN: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 5 Bunga Anggrek itu Telah Timbul

Tak ada yang bisa tahu persis seperti apa duka perih Puri karena kekasihnya hilang selama ini. Gadis santun yang namanya punya arti istana emas itu tak pernah memperlihatkan keperihan hatinya sekalipun kepada orang-orang dekatnya. Dia juga seperti tak punya teman selain perempuan-perempuan pembatik di Dalem Pandukusuman. Teman-teman sekolahnya dulu pun tak pernah ada yang datang berkunjung atau dia yang mengunjungi. Maka, hanya ada sedikit nama yang tercatat dalam kehidupannya yang sepi. Dan Sasongko adalah nama yang paling dalam letaknya di batin Puri.
Sasongko itu sedang bicara dengan Jiwat di rumahnya. Kali ini tidak sambil memainkan biola karena Damar Galih sedang dibawa bibinya, adik Sasongko yang sebenarnya juga repot karena harus momong anaknya sendiri.
“Saya tidak mengharapkan uang transpor atau honor apa pun dari grup keroncong itu meskipun saya sangat membutuhkannya,” kata Sasongko. “Buat saya, kesempatan masuk ke Dalem Pandukusuman yang panjenengan tawarkan itu yang sangat menarik. Membuat saya merasa punya kehidupan baru. Meskipun sebenarnya berat hati saya karena perasaan malu dan segala macam yang sulit dikatakan.”
Jiwat heran Sasongko bisa bicara panjang begitu. Padahal setahunya Sasongko ini sangat pendiam. Dia tidak punya perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapkan isi hatinya. Apa gerangan yang bikin sahabatnya itu jadi pintar bicara sekarang?
“Kelihatannya Dalem Pandukusuman itu spesial buat Bung Sasongko?”
“Tidak ada tempat lebih spesial dari itu.”
“Pasalnya?”
Sasongko diam sesaat, tersenyum sedikit, lalu bilang, “Jeng Puri itu dulu teman dekat saya.”
Jiwat terbahak-bahak.
Di Dalem Pandukusuman, R.M. Pandukusumo juga sedang terbahak-bahak dengan riangnya sejak Guntur mengutarakan maksudnya untuk menghidupkan grup musik keroncong itu.
“Bagaimana kamu bisa mimpin grup musik keroncong, wong kamu sendiri main gitar saja ndak bisa,” kata R.M. Pandukusumo.
“Eyang juga tidak bisa main gitar, tapi bisa mimpin grup keroncong.”
“Oh, kamu mau niru Eyang? Boleh, boleh, kamu memang cucu yang paling mirip dengan Eyang. Romo-mu saja tidak mirip sedikit pun dengan Eyang.”
“Tapi soal keuangannya, Eyang yang tanggung jawab, ya Eyang.”
“Lha iya. Kamu yang ngatur, Eyang yang nyembur. He-he-he ….”
Maka kemudian semuanya berjalan lancar. Puri pun ikut berpartisipasi dalam aktivitas itu. Dia ikut latihan nyanyi keroncong. Sulit juga nyanyi keroncong, cengkoknya tak mudah dipelajari, tapi sungguh mengasyikkan. Sayang pemain biola yang dijanjikan Jiwat belum datang juga. Jiwat tak pernah mengatakan siapa pemain biola itu. Ia hanya bilang seorang teman lama yang nasionalis meskipun pernah belajar main biola dari orang Belanda. Dalam setiap latihan, Jiwat selalu datang. Dia tidak main apa-apa, cuma bertepuk tangan plok-plok-plok sebagai senggakan, semacam kerja perkusi.
Sayang selama aksi keroncong-ria itu berlangsung, Ningtyas tak pernah ikutan. Padahal Jiwat kangen setengah mati dan berharap bisa mengabari Bung Setobroto mengenai keberhasilan misinya. Dia juga sangat berharap Sasongko segera datang bergabung karena semuanya sudah disiapkan dengan baik. Sasongko hanya mengatakan perlu waktu untuk mengumpulkan semangat dan menekan rasa malu bila berkunjung ke Dalem Pandukusuman.
Di rumahnya di pinggir perkebunan teh, R.M. Setobroto sedang mendengarkan berita radio dengan perasaan tegang. Siaran radio itu berasal dari MRV (Mangkubumi Radio Vereeniging), sebuah stasiun radio pribumi, yang memberitakan Hindia Belanda mengumumkan perang dengan Jepang. Tercatat hari ini tanggal 8 Desember 1941.
Ini masalah internasional yang akan berimbas buruk terhadap Indonesia. Bagaimana tidak, dua gajah akan bertarung di sarang pelanduk. Maka, sang pelanduk pasti akan remuk terinjak-injak sampai tulang-belulangnya pun tidak bisa dikenali.
R.M. Setobroto mengambil wudu, lalu salat sunnah dua rakaat, tapi diulangnya beberapa kali. Memohon agar Allah Swt. tidak menjatuhkan bencana yang lebih mengerikan lagi daripada yang mungkin bisa disandang negeri ini.

***
Puri merasa kurang nyaman menyanyi keroncong tanpa iringan biola. Mungkin karena dulu-dulu ketika grup keroncong itu latihan Puri selalu mendengar gesekan biola mewarnai irama keroncong. Selain di Dalem Pandukusuman Puri memang tak pernah mendengar musik itu. Sesekali juga dari radio yang disetel eyangnya, selalu ada alunan biolanya.
Malam itu ketika dia sudah berdiri di belakang mikrofon dalam acara latihan, terdengar gesekan biola mengalun dari bawah pohon sawo kecik terus mendekat ke ruang latihan di bagian samping Dalem Pandukusuman. Semua orang yang berada di ruang latihan itu terhenyak mendengarnya. Jiwat langsung berdiri dan menggerak-gerakkan kedua tangannya bagai seorang dirigen. Ia memberi isyarat agar pemain musik menyambut alunan biola itu dengan permainan instrumen mereka. Maka, mengalunlah musik merdu mendayu-dayu.
    Ningtyas yang berada di kamarnya mendengar alunan musik itu.
“Goed zoo!” serunya menyatakan pujian atas terdengarnya musik itu. “Als de Orchideen Bloeien memang lagu bagus penuh kenangan!”
Ningtyas membuka jendela kamarnya yang menghadap ke halaman samping Dalem Pandukusuman. Dia melongok dari jendela itu. Sempat melihat punggung seorang lelaki ramping yang menggesek biola sambil berjalan ke ruang latihan. Ningtyas belum sampai mengenali lelaki itu, tapi ia sangat kagum akan gesekan biolanya yang lembut bagai bisa mencabut sukma. Ningtyas menutup jendela dan keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang latihan.
Di ruangan itu Puri berdiri di belakang mikrofon tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali terbengong saja. Bahkan bernapas pun rasanya sulit sekali. Jantungnya berdebar sampai pada degupan yang paling keras. Bagaimana tiba-tiba saja kekasihnya muncul dengan cara seperti itu? Padahal Joleno sudah tahu akan begitu, karena tadi dia yang membukakan pintu gerbang dan menuntun sepeda Sasongko.
Jiwat juga merasakan degupan jantung yang sama karena Ningtyas muncul di ruang latihan, hal yang selama ini tidak pernah terjadi bahkan bayangan tubuhnya pun tak pernah terlihat.
Ini juga sebuah kejutan buat Guntur. Mana tahu pemain biola yang ditunggu-tunggunya itu ternyata Kangmas Sasongko yang juga dirindukannya sejak lama. Serta-merta dia menduga Jiwat memang sengaja menyutradarai kisah pertemuan yang sangat mengesankan itu. Ia sampai menitikkan sedikit air mata karena terharu dan gembira yang berpilin menjadi satu.
“Nyanyi, Mbak Puri!” seru Ban Hauw, pemuda cina yang memetik okulele. “Satu kuplet lagi nanti masuk.”
Puri termangu-mangu. Gugup sekali menunggu saat dia harus mulai menyanyi. Ketika Puri harus masuk, Sasongko membungkukkan badannya sebagai isyarat sambil terus menggesek biolanya.

“Bila anggrek mulai timbul. Aku ingat padamu. Di waktu kita berkumpul. Kau duduk di sampingku. Engkau cinta kepadaku. Bulan menjadi saksi. Engkau telah berjanji. Sehidup dan semati. Kini kau cari yang lain. Lupa dengan janjimu….”

Lagu itu mengalun dengan suara penyanyinya yang bukan saja merdu, juga penuh penjiwaan. Pendengarnya hanyut dalam keperihan yang indah. Ya, syair lagu itu menceritakan keperihan seorang dara yang ditinggal pergi kekasihnya, tapi dilantunkan dengan melodi yang indah sekali. Maka, jadilah keperihan itu indah dan memabukkan bila didengar. Dan, sepanjang syair lagu itu adalah perwakilan dari kisah cinta Puri belaka. Apa yang diungkapkan oleh syair lagu itu, adalah yang juga terjadi atas diri Puri. Kekasihnya hilang entah ke mana, lupa akan janjinya, dan memilih orang lain sebagai pendampingnya.
Sasongko sendiri merasa syair lagu itu seolah menuding dirinya sebagai kekasih yang tega mengkhianati cintanya demi kepentingan dirinya sendiri. Sedangkan bagi Ningtyas, lagu itu adalah ‘Als de Orchideen Bloeien’ yang mengingatkannya pada pertemuannya dengan Pieter van Hofman.
Ketika lagu selesai dinyanyikan, orang bertepuk riuh. Ternyata di situ sudah ada R.M. Pandukusumo dan Den Ayu Pandu, bahkan Mbok Sayem yang ingin mengagumi anak gadisnya menyanyi.
Sasongko membungkukkan badannya dalam-dalam ke arah R.M. Pandukusumo dan Den Ayu Pandu. Justru ia tidak memandang ke arah Puri karena sampai saat itu ia merasa belum sanggup bertatap mata dengan kekasihnya itu. Rasa bersalah dan kesadaran akan rendahnya derajat dirinya, memaksanya tak sanggup memandang sang kekasih.
Sasongko meletakkan biola dan penggeseknya, lalu menyalami R.M. Pandukusumo dengan membungkuk dalam-dalam bagai hendak sungkem.
“Sugeng, Ndoro …,” ucapnya. Sugeng itu sapaan untuk menanyakan kesehatan seseorang yang dihormati. Semacam apa kabar.
“Alhamdulillah sehat, Nak. Tapi kok pakai Ndoro?” sahut R.M. Pandukusumo.
“Lah iya, ada-ada saja Nak Sasongko ini. Kenapa tidak manggil Eyang saja seperti Puri itu lho. Nak Sasongko kan temannya Puri,” sahut Den Ayu Pandu.
“Apa gara-gara ndak pernah lagi main ke sini, sampai lupa harus manggil Eyang bagaimana? Ndoro! Ndorone sopo?”
“Inggih, Eyang. Mohon maaf ….”
“He-he-he, cah bagus. Kok lama toh Nak, baru tindak ke sini?”
Sasongko gelisah mendapat pertanyaan itu. Ia tidak bisa menjawab. Disalaminya pula tangan Mbok Sayem dengan sikap yang sama seperti terhadap R.M. Pandukusumo.
“Nak Sasongko …,” ucap Mbok Sayem. “Main biolanya bagus banget, lho.”
“Maturnuwun, Bu.”
Guntur giliran menyalami Sasongko dengan hangat. Ia bahkan memeluk Sasongko dengan gegap-gempitanya. Sasongko sampai kikuk karenanya. Dia lalu menyalami teman-teman pemain keroncong satu per satu. Puri justru yang terakhir setelah Ningtyas. Sasongko jadi lebih kikuk lagi sementara Puri tampak seperti tidak menginjak bumi. Ia berharap ini bukan mimpi. Bahwa benar ia baru saja menyanyikan ‘Bila Anggrek Mulai Timbul’ dengan iringan biola sang kekasih yang lama hilang. Dan kini dia telah timbul seperti anggrek dalam nyanyian itu.
Malam itu sungguh luar biasa bagi kehidupan Sasongko. Ia diterima dengan baik di Dalem Pandukusuman sementara seharusnya ia dihujat sebagai pengkhianat atas cintanya.
Sayang tak ada kesempatan bagi Puri untuk berbincang dengan Sasongko secara pribadi. Betapa ia ingin menanyakan banyak hal kepada kekasihnya itu. Puri sadar, pertemuan kembali ini hanya bisa menjadi pertemuan dalam situasi yang hingar-bingar.
Mbok Sayem sangat memahami perasaan anak gadisnya. Tengah malam ia mendatangi kamar Puri setelah semua kehingarbingaran itu berakhir. Puri sedang terbaring di ranjangnya dengan mata menatap langit-langit kamar. Begitu Mbok Sayem mengetuk pintu kamar, serta-merta Puri meloncat bangun bagai tercabut dari ruang kosong yang membingungkan.
“Jangan sedih dengan pertemuan singkat seperti ini, Nduk,” kata Mbok Sayem. “Berbahagialah kamu bisa mengalami kesenangan seperti ini. Ibu dulu tak pernah merasakan seperti yang kaurasakan.”
“Inggih, Bu. Tapi Mas Sasongko tidak sempat bilang apa-apa karena situasinya memang begitu. Padahal dalem masih ingin menanyakan banyak hal kepadanya.”
“Seandainya tidak tabu seorang gadis mendatangi rumah pria, Ibu ingin menyuruhmu ke rumah Nak Sasongko untuk menyambung pertemuan tadi. Ingatlah Nduk, kamu bukan Ibu yang dulu didatangkan dari kampung. Kamu seorang raden roro karena kamu putri R.M. Dewobroto. Karena itu janganlah pernah berpikir untuk mendatangi rumah Nak Sasongko ….”
Itulah memang kenyataannya. Tak ada pembenaran bagi seorang putri priayi biyayakan mendatangi rumah lelaki. Lain halnya kalau putri priayi itu seorang pemberontak semacam Ningtyas. Jika hal ini terjadi atas diri Ningtyas, maka tak ada tabu yang menghalanginya. Mendatangi tempat Pieter van Hofman pun bukan masalah lagi baginya.
Ternyata Ningtyas juga masih memiliki kelembutan hati yang tersembunyi di balik sikapnya yang urakan. Ia mengerti betul duka Puri. Bahkan bersimpati terhadap keponakannya itu. Diam-diam ia bertanya kepada Jiwat dalam kunjungan Jiwat ke Dalem Pandukusuman di luar acara latihan keroncong.
“Bagaimana saya bisa menemui Sasongko di rumahnya, Bung Jiwat?” Begitu caranya bertanya.
“Oh, Jeng Ningtyas berkenan mengunjungi Bung Sasongko?”
“Saya bertanya, mestinya Bung menjawab, bukan malah bertanya juga.”
Jiwat tertawa singkat. Bersama Ningtyas dia memang selalu mendapat kejutan-kejutan begini.
“Jeng Ningtyas bisa mendatangi Kampung Semakan dengan menyusuri jalan di pinggir sawah. Nanti akan terdengar ‘Als de Orchideen Bloeien’ dari sebuah rumah. Itu rumah yang Jeng cari.”
Mudah kalau begitu. Yang tak mudah adalah mengajak Puri ke sana. Pasti akan ada seribu alasan untuk menolak. Ningtyas harus punya satu alasan yang jitu untuk memberangus seribu alasan Puri.
“Puri, antar Tante ke rumah Den Ayu Durgo, yuk!”
“Inggih, Tante. Boleh tahu Den Ayu Durgo itu siapa? Tidak sembrono ya kalau Puri tanya?”
“Den Ayu Durgo itu orang kaya baru yang gemar borong berlian. Tante mau nawarkan berlian koleksi Tante. Kalau laku nanti kamu Tante belikan rok baru model Sylvia Mangano.”
“Monggo, Tante. Tapi ndak usah beli rok Sylvia Mangano. Dalem nderek saja.”
Kena kamu, Puri. Sylvia Mangano itu siapa dan roknya model apa, Ningtyas ngawur saja. Pokoknya nama itu mirip-mirip nama bintang film Filipina yang pernah ditontonnya di gambar hidup (bioskop) bersama Pieter van Hofman. Dan nama itu sebenarnya punya arti, Sylvia makanlah. Lebih ngawur lagi adalah nama Den Ayu Durgo. Tidak ada nama orang begitu. Sebab Durgo itu nama seorang dewi yang jahat sekali dalam cerita wayang. Tak mungkin ada orang yang bernama tokoh antagonis setingkat Betari Durgo, ratu jin dan demit di hutan Setra Gandamayit.
Jadilah Buick warna hitam itu meluncur ke Kampung Semakan. Ningtyas pe-de saja menjalankan mobil itu melewati jalan tanah di pinggir sawah. Padahal hatinya kebat-kebit tak keruan menyadari buruknya jalan dan sepinya wilayah itu.
“Den Ayu Durgo kok rumahnya di kampung begini, Tante?”
“Namanya saja OKB, orang kaya baru. Maunya yang aneh-aneh. Jangan-jangan nanti rumahnya malah di atas pohon.”
Puri tertawa tertahan. Manisnya gadis itu. Tertawa pun dengan menutup mulutnya sambil menunduk dan hanya berbunyi kik-kik-kik pelan sekali.
Lalu ada alunan biola dari rumah berdinding anyaman bambu yang menghadap ke hamparan sawah luas itu. Kadang terdengar kadang tidak karena deru mobil yang meraung-raung di jalan tanah bergelombang itu menciptakan gangguan tersendiri. Tapi alunan biola itu cukup menghenyakkan Puri.
“Bila Anggrek Mulai Timbul.”
“Als de Orchideen Bloeien.”
Keduanya bertukar pandang lalu tertawa singkat setelah mengucapkan dua judul lagu secara bersamaan.
“Kita mampir dulu buat mendengarkan lagu itu.”
“Masa begitu, Tante? Nanti keburu Den Ayu Durgo-nya merosot dari pohon.”
“Memang OKB suka main perosotan!”
Mobil berhenti di depan rumah itu, tidak masuk ke halaman, hanya di pinggir jalan. Puri setengah tak yakin ketika keluar dari mobil itu. Tantenya ini ada-ada saja. Mau mendengarkan alunan biola di pinggir sawah sampai harus turun dari mobil.
“Ayo masuk saja. Bersalam dulu.”
“Masuk ke mana, Tante?”
“Masa ke rumah Den Ayu Durgo? Kan masih jauh. Masuk ke rumah ini saja mendengarkan Als de Orchideen Bloeien.”
Puri termangu di depan pintu rumah itu. Sungguh tak masuk akal perilaku tantenya ini.
“Spada … kulonuwuuuuun.” Ningtyas bersalam dan langsung mendorong pintu hingga terbuka.
Alunan biola terhenti. Lalu suara tangis anak kecil terdengar.
“Monggo …. Oh!”
Sasongko berdiri mematung sambil memegangi biola dan sticknya. Bagaimana dua bidadari tahu-tahu menjelma di gubuknya ini? Tubuhnya gemetar karena jantungnya berdegup dan bergoyang-goyang dengan serunya.
“Mas Sasongko ….”
“Jeng Puri ….”
Damar Galih terus menangis. Sasongko kikuk dan berkeringat dingin. Tak tahu harus berbuat apa menghadapi situasi ini.
“Anak itu nangis terus,” kata Ningtyas. “Coba didiamkan supaya tidak berisik.”
“Harus dengan bunyi biola, Tante.”
Kalau bukan Sasongko yang memanggil Tante, pasti sudah kena sembur. Bagaimana pantas pemuda dua puluh delapan tahunan memanggilnya Tante, sedangkan dia lebih tua tiga tahunan daripada Ningtyas. Tapi karena Sasongko adalah pacar Puri, tak apalah.
“Dengan bunyi biola? Anak apaan nangis didiamkan dengan bunyi biola?”
“Anak saya, Tante.”
“Hah? Bagaimana kamu bisa beranak?”
“Istri saya yang melahirkan.”
“Maksudku bagaimana kamu punya istri dan kemudian punya anak!”
Damar Galih terus menangis dan tangisnya itu sungguh sangat mengganggu. Sasongko ingin lari dari situasi yang tidak mengenakkan itu dengan memainkan biolanya. Damar Galih berhenti menangis. Ia menyumpalkan jari-jari tangannya ke mulutnya sendiri. Tampak nyaman dalam situasi itu.
“Ibunya mana, Mas?” tanya Puri dengan setengah mengisak tapi ia berusaha keras untuk tegar.
Biola terus mengalun.
“Tak sempat momong anaknya, Jeng. Dia hanya bertahan dua hari setelah melahirkan.”
“Innalillahi waina ilaihi roji’un …. Turut berduka, Mas.”
“Terima kasih ….”
Jadi inikah makna firasat kacamata yang pecah di halaman Dalem Pandukusuman dulu? Itu cuma takhayul, tapi kenyataan ini tetap saja menyakitkan. Puri tak tahan lagi berada di tempat itu. Ia ingin segera pergi, paling tidak untuk sementara agar dia bisa memahami sepenuhnya kenyataan pahit ini.
“Tante, kita berangkat ke rumah Den Ayu Durgo saja ya, Tante.”
“Iya, ayo.”
Keduanya berpamitan dengan suasana yang tidak nyaman sementara biola itu terus dimainkan dengan pengulangan-pengulangan selagi Damar Galih belum tidur.
Di depan rumah itu mobil terpaksa harus berputar arah dengan susah-payah. Tidak ke arah rumah Den Ayu Durgo.
“Kok tidak jadi ke rumah Den Ayu Durgo, Tante?”
“Den Ayu-nya sudah mati keperosot dari pohon!” (Bersambung)



Komentar Facebook