ANEMIA MENGINTAI BAYI YANG BARU LAHIR

ANEMIA MENGINTAI BAYI YANG BARU LAHIR

Bayi dengan lahir prematur bisa mengalami anemia yang biasanya diderita oleh orang dewasa

 

Setiap orang tua tentu menginginkan memiliki anak yang lahir dengan kondisi sehat tanpa menderita penyakit apa pun. Akan tetapi dengan perkembangan zaman, ternyata banyak bayi yang lahir dengan berbagai masalah kesehatan bawaan. Masalah itu muncul akibat kondisi bayi yang lahir belum cukup bulan (prematur), makanan, lingkungan, hingga bawaan penyakit dari sang ibu.

            Penyakit kuning merupakan gangguan kesehatan yang umum yang terjadi pada bayi yang baru lahir. Penyakit itu diakibatkan belum sempurnanya organ hati yang dimiliki oleh sang bayi. Namun, tak banyak orang yang tahu ternyata ada gangguan kesehatan lain yang juga kerap mengintai para bayi, yakni penyakit yang berhubungan dengan kelainan darah, seperti anemia.

            Masyarakat awam mungkin lebih sering mendengar penyakit ini banyak diderita oleh orang dewasa, padahal penyakit kekurangan darah merah bisa juga diderita oleh bayi baru lahir, terutama bayi yang lahir prematur.

            Amenia memang kerap dianggap sebagai penyakit biasa. Padahal kekurangan zat besi pada masa kanak-kanak, terutama yang diderita para bayi, dapat menimbulkan dampak serius apabila tidak segera diatasi. Kondisi tersebut sulit dipulihkan, terutama jika sudah berdampak pada gangguan kecerdasannya.

            Menurut spesialis onkologi RS Evasari Awal Bros Jakarta, Prof Dr Djajadiman Gatot SpA(K), anemia pada bayi ini salah satunya bisa disebabkan pengambilan sel darah yang dilakukan berulang. Proses ini sebenarnya berguna untuk keperluan tes laboratorium yang dilakukan oleh para medis guna mengetahui kadar sel darah merah pada sang bayi.

            “ Normalnya, jumlah kandungan zat besi pada saat bayi baru lahir adalah satu gram dengan kebutuhan zat besi untuk  proses eritropoesis sebanyak 920 mg/hari,” ujarnya  dalam acara seminar medis tentang anemia dan kelainan darah pada bayi di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

            Gejala anemia pada bayi ini umumnya ditandai dengan berkurangnya kadar hemoglogin di bawah normal untuk seusianya. Berdasarakn kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anemia pada anak kurang dari usia lima tahun ditandai dengan nilai hermoglobin kurang dari 11 gr. Untuk mengetahuinya, memang diperlukan pemeriksaan darah di laboratorium.

               Selain itu penyebab lain dari anemia yang diderita bayi dan balita adalah ketika proses persalinan saat darah dalam tubuh bayi bisa hilang dalam jumlah yang besar. Hal itu terjadi jika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi akibat robekan pada tali pusar.

            “Bayi yang menderita anemia akan tampak sangat pucat. Sesak napas, dan tekanan darahnya rendah. Anemia pada bayi akan semakin parah bila pertumbuhan bayi lebih cepat ketimbang laju pembentukan sel darah merah yang baru. Bayi prematur biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala anemia dan kondisi ini akan menghilang dengan sendirinya dalam satu dua bulan, “ jelasnya.

            Sementara, dalam kesempatan yang sama, spesialis kardiologi RS Evasari Awal Bros, Dr Nuvi Nusantarinowi SpA (K) juga mengungkapkan penyebab lain anemia pada anak-anak, yakni defisiensi asam folat dan vitamin B12. Kekurangan mikronutrien tersebut menyebabkan talasemia dan sterositosis.

            Defesiensi zat besi pada bayi lahir dengan kondisi prematur juga disebabkan oleh menurunnya cadangan zat besi pada saat lahir, kenaikan berat badan pascalahir dengan cepat, dan tentunya juga akibat pengambilan sampel darah yang berlebihan.

            “Anemia prematuristas terjadi karena adanya penurunan masa sel darah merah yang menurun saat lahir, penurunan ketahanan hidup sel darah merah, dan rendahnya respons EPO terhadap anemia. Selain ASI, bayi yang terlahir dengan anemia prematuristas membutuhkan asupan tambahan berupa susu formula sebagai penghasil besi,“ jelas Novi.

            ASI mempunyai efek protektif karena mengandung laktobarterin yang dapat mengikat besi bebas sehingga mengurangi absorpsi besi dalam makanan dan mengurangi oxidative stress karena besi. Kebutuhan zat besi yang diperlukan pada bayi prematur dengan berat 1.000 gram adalah 4mg/kg/hari.

diturunkan kepada bayi yang baru lahir nantinya, “ kata dokter senior ini.

 

Cara menghindarkan bayi dari anemia.

Pemeriksaan laboratorium dipelukan untuk mengetahui gejala bayi yang mengalami anemia agar penanganannya dapat dilakukan dengan tepat, namun, para orangtua juga patut memperhatikan  beberpa kondisi pada bayi jika terjadi perubahan yang tidak normal. Di antaranya, jika bayi terlihat pucat, mudah lelah dan lesu, ingin tidur terus menerus, dan kehilangan nafsu makan atau minum susu.

            Sebelum hal tersebut terjadi pada bayi, sebaiknya orang tua perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Pemberian ASI eksklusif

Ibu wajib memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama setelah bayi lahir. Akan tetapi , bila bayi yang berusia kurang dari satu tahun tidak bisa mendapatkan ASI, sebaiknya diberikan susu formula dengan kandungan zat besi 12 mg/L.

  1. Pemberian zat tambahan

Bayi yang berusia enam bulan ke atas bisa diberikan sereal dengan tambahan zat besi seta vitamin C secukupnya untuk membantu penyerapan zat besi.

  1. Pemberian makanan tambahan

Usahakan untuk memberikan makanan tambahan pada bayi yang berusia di atas enam bulan dengan konposisi seimbang, lengkap dengan sayur, protein hewani, dan buah.

  1. Tetap memberikan ASI

Makanan tambahan pembantu ASI seperti susu formula memang mengandung kadar zat besi yang lebih tinggi. Namun, perlu diketahui bahwa hanya sepuluh porsennya yang bisa diserap oleh tubuh bayi, sisanya didapat dari ASI.

Maka tambahan makanan pendamping ASI setelah bayi berusia enam bulan tak kalah penting untuk diberikan. Sumber makanan tersebut di antarnya, ikan, telur, daging, bayam, dan hati.

  1. Ibu menyusui harus menjaga pola makan bergizi

Ibu menyusui juga wajib menjaga pola makan dengan komposisi seimbang. Hal ini berguna agar ASI yang dihasilkan sang ibu semakin banyak dan berkualitas bagi sang bayi agar kebutuhan zat besinya juga dapat terpenuhi dengan baik.

(REPUBLIKA) 



Komentar Facebook