NOVEL PERJUANGAN MEMPERINGATI HUT RI: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 4 Pesakitan Pieter van Hofman

NOVEL PERJUANGAN MEMPERINGATI HUT RI: CINTA DUA PEREMPUAN bag. 4 Pesakitan Pieter van Hofman

Hari belum siang benar ketika Jiwat bersiap hendak ke Dalem Pandukusuman. Ia sudah mengeluarkan sepeda kumbang dari ruang tamu rumah pemondokannya yang difungsikan juga sebagai garasi. Di rumah kecil itu memang tidak tersedia garasi secara khusus.
Dua orang polisi bersenjata Karabijn mendatanginya. Keduanya menodongkan senjata ke dada Jiwat.
“Atas nama Sri Ratu, Tuan Jiwat kami tangkap!” kata salah seorang polisi berpangkat agent eerste klas.
Jiwat mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan menghindari kemungkinan polisi itu main tembak kalau mereka menyangka Jiwat akan lari.
“Nama saya Miftah Muhammad, Tuan. Di kantong celana saya ada surat keterangan. Saya bisa perlihatkan kepada Tuan kalau boleh saya ambil dompet saya.”
“Saya yang akan ambil!” kata polisi yang seorang lagi.
Polisi itu lalu menggeledah saku celana Jiwat dan mengambil dompet dari sana. Dia memeriksa isi dompet. Hanya ada sedikit uang dan selembar surat keterangan identitas. Di situ memang tertulis nama Miftah Muhammad, 29 tahun, lengkap dengan alamatmya di kampung itu.
Sesaat dua orang polisi ragu. Tapi sesaat kemudian mereka memaksa Jiwat ikut ke kantor polisi. Ia dibawa dengan sebuah mobil jip. Jika menolak mungkin dia ditembak.
Orang-orang menontonnya dengan prihatin. Siapa pun ditangkap polisi Hindia Belanda bakal sengsara seperti para pesakitan lainnya sebelum itu. Lebih-lebih mereka mengenal Jiwat sebagai orang muda yang ramah dan tidak bermasalah dengan masyarakat sekitar pemondokannya. Jiwat seorang blantik, orang yang melakukan jual beli sepeda dan barang-barang lainnya. Bagaimana dia bisa ditangkap polisi? Mungkin dia jadi tukang tadah barang curian?
Jiwat menyangka penangkapan atas dirinya ini ada hubungannya dengan gerakan bawah tanahnya di Batavia. Jika benar begitu, dia terima saja karena sejak semula dia tahu risiko jadi orang perjuangan. Kalau pun nantinya dia ditembak mati, dia pun siap menghadapinya. Ini akan jadi akhir pelariannya selama ini.
Ternyata tidak begitu. Di kantor polisi dia diperiksa dengan keras. Dia tidak mau mengakui perbuatannya melakukan penipuan terhadap Raden Roro Kusumaningtyas. Untuk perkara ini dia tidak mau mengakuinya sekalipun dia dipukuli dan dipaksa habis-habisan. Ia merasa terhina dengan tuduhan itu. Tidak demikian halnya jika ia tertangkap sebagai aktivis. Ada perasaan menjadi orang terhormat jika harus mati sebagai pejuang.
“Kamu akan berhadapan dengan Jevrow Kusumaningtyas,” kata polisi yang menginterograsinya dengan sangat keras. “Nanti kamu tidak akan bisa ingkari perbuatan kamu!”
Inilah bencana yang sebenarnya jika Ningtyas sampai didatangkan ke sana untuk mengenali Jiwat. Dan bencana itu benar-benar datang ketika Ningtyas diantar sendiri oleh Inspektur Pieter van Hofman ke ruang interogasi untuk mengenali Jiwat, penipu tiga potong batik tulis Dalem Pandukusuman dengan cincin berlian palsu sebagai borg-nya.
“Betul itu orang yang tipu je, mijn schat?”
Ningtyas memandang lekat-lekat wajah Jiwat. Wajah yang penuh darah kering sampai ke rambutnya. Sungguh mengenaskan keadaannya. Lelaki itu, siapa pun dia, adalah anak bangsa sendiri yang dibencanai oleh kekejaman polisi kolonial. Ada hak apa orang bule dari negeri yang jauh di sana, datang ke sini untuk membencanai anak-anak negeri yang terjajah?
Jika pun orang yang berdarah-darah itu adalah memang penipu, tidak semestinya dia dibencanai secara terhina seperti itu oleh orang asing yang numpang hidup di sini. Ningtyas pada kesadaran kebangsaan yang tiba-tiba saja membakar jiwanya.
“Je kenal bandit itu, mijn schat?” Inspektur Pieter bertanya lagi karena Ningtyas hanya diam memandangi Jiwat berlama-lama.
Jiwat sendiri sudah pasrah apa kehendak nasib atas dirinya. Satu kata putus dari mulut Ningtyas akan bisa mencelakainya detik itu juga.
“Oh, ik tidak kenal dia,” kata Ningtyas pada akhirnya.
“Bagaimana bisa begitu? Je bilang dia penipu!”
“Ik bilang ik kenal penipu itu. Tapi ik tidak kenal ini orang. Je salah tangkap, Pieter.”
“Zeg! Bagaimana bisa begini?”
“Je harus bawa dia ke rumah sakit karena je punya anak buah sudah bikin orang baik-baik hampir mati begitu.”
Ningtyas bergegas pergi. Tak tahan menyaksikan keadaan Jiwat seperti itu.
Inspektur Pieter van Hofman menyadari kesalahan anak buahnya juga karena pesakitan yang dibencanai itu ternyata bernama Miftah Muhammad, bukan Jiwat seperti yang dilaporkan.
Maka Jiwat pun dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Tidak ada permintaan maaf atas kekeliruan itu.

***

Apa yang terjadi dengan Jiwat sejak Ningtyas melaporkannya ke polisi? Guntur tidak bisa membayangkannya. Lalu ketika Tante Ningtyas itu datang ke kantor polisi, apa gerangan yang terjadi? Ningtyas tidak pernah mengatakan apa-apa. Hanya sikapnya sedikit berubah. Tidak heboh lagi, lebih banyak diam dan tampak memikirkan sesuatu. Tak tahan hanya menduga-duga, Guntur bertanya juga kepada sang Tante.
“Jadi bandit itu sudah ketangkep, ya Tante?” Itu cara Guntur bertanya kepada tantenya.
“Sudah.”
“Dipukuli, disiksa, dipaksa mengakui perbuatannya, begitu Tante?”
“Bandit memang harus dibegitukan biar kapok.”
“Mas Jiwat juga dibegitukan? Tante senang ya bisa melakukan pembalasan kepada Mas Jiwat dengan meminjam tangan pacar Tante. Apa namanya orang yang menyakiti bangsanya sendiri dengan menyuruh penjajah yang melakukannya? Dalem tidak tahu apa istilah untuk orang macam itu. Penjilat, penjahat, atau pengkhianat, Tante?”
“Kamu mau omong apa sebenarnya?” Ningtyas mulai meledak seperti biasanya.
“Tolong Tante kasih tahu pacar Tante, keponakan Tante ini mau jenguk bandit yang sudah digebuki itu.”
“Kamu kurang ajar sekali bilang Pieter itu pacar Tante.”
“Oh, jadi bukan, ya Tante?”
Ningtyas menampar mulut Guntur keras sekali dan gerakannya sungguh tak terduga sampai Guntur tak sempat mengelak.
“Belajar omong yang bener, yang sopan, tahu adat!”
“Jadi dalem harus bilang bagaimana, Tante?”
“Terserah mau bilang apa lagi. Tapi aku mau tampar kamu lagi supaya mulut anak babu itu tahu aturan!”
“Tidak apa-apa, Tante. Kan pantas Tante nampar mulut keponakan Tante yang kurang ajar. Kalau dalem tanya sekarang Mas Jiwat ada di mana, Tante mau nampar lagi, tidak?”
“Rumah sakit. Cari saja sendiri.”
Nah. Akhirnya Guntur dapat juga informasi Jiwat ada di mana. Guntur menangkap tangan kanan tantenya dan menciumnya kuat-kuat. Ningtyas sampai terkejut dan menghindarkan tangannya. Tapi dia mandah saja begitu Guntur menciumi tangan itu. Tampaknya dengan sungguh-sungguh karena rasa hormat atau terima kasih. Yang pasti ini buat yang pertama kalinya Guntur melakukan hal itu. Bahkan ketika lebaran pun dia tak pernah melakukannya dalam acara sungkeman.
“Terima kasih, Tante. Dalem mau ke sana,” katanya setelah menciumi tangan Ningtyas.
BSA merah bata segera meluncur pergi dari gerbang Dalem Pandukusuman. Ningtyas memandangi punggung keponakannya itu. Dia memahami kedekatan Guntur dan Jiwat entah oleh sebab apa. Mungkin Jiwat itu sahabat yang pantas dicintai, tapi kelakuannya menipu batik dengan berlian palsu itu sungguh kejahatan yang tak bisa ditoleransi. Seandainya bukan Pieter van Hofman dan anak buahnya yang melakukan kekejaman terhadap bandit itu, tak sudi Ningtyas menyelamatkannya.
Menemui pesakitan yang dirawat di rumah sakit, sebenarnya tak akan mudah. Tapi polisi yang berjaga di sana mengenal Guntur sebagai keponakan pacar sang komandan. Maka, Guntur mudah menemui Jiwat di salah satu kamar rumah sakit itu.
Kagetnya setengah mati ketika Guntur melihat keadaan Jiwat. Kepalanya dibebat, ada memar-memar di tangan dan kakinya. Tapi Jiwat tertawa ketika Guntur muncul di kamar perawatan itu.
“Kalau sudah begini bagaimana kita bisa menuntut keadilan, Mas Jiwat? Ini kebiadaban yang serius!”
“Terus kita mau apa, Dimas? Mau lapor kepada orang Sraten supaya menyerbu kantor polisi?”
Guntur tersenyum masam.
“Supaya panjenengan tahu Dimas, saya bisa selamat karena Jeng Ningtyas menolong saya.”
“Saya tidak paham bagaimana Tante Ningtyas menolong Mas Jiwat.”
“Tante panjenengan memang sulit dipahami, kok.”
Memang. Sampai saat itu pun Guntur belum bisa memahami tantenya itu sepenuhnya.

***
 Seminggu kemudian Jiwat muncul di Dalem Pandukusuman. Penampilannya sudah lumayan rapi, meskipun ada sedikit perban yang menempel di pelipisnya yang dibotaki dan dijahit.
“Dat geeft niet,” katanya ujug-ujug, tanpa pendahuluan apa-apa. Artinya memang tidak apa-apa. “Saya cuma harus sedikit berkeringat dan berdarah. Itu bagus buat sport karena sudah lama saya tidak gerak badan.”
Coba bagaimana Ningtyas mesti menyahuti ucapan Jiwat itu? Terus-terang, ini kali pertama Ningtyas mengenal orang yang aneh dan sulit dimengerti. Kemunculannya ke Dalem Pandukusuman setelah semua yang terjadi, juga tak kurang aneh.
“Bung silakan duduk dulu lalu bicara yang runut supaya saya paham maksud Bung,” kata Ningtyas.
“Terima kasih.”
Jiwat pun duduk di kursi di pendopo itu. Dia menyandang sebuah tas kecil bertali panjang. Dari dalam tas itu ia mengeluarkan uang dalam amplop putih yang menggelembung. Disodorkannya uang dua puluh lima gulden itu dengan mendorongnya di atas meja ke dekat Ningtyas.
“Vijfen twentig gulden. Tidak kurang sepeser pun dari jumlah yang sudah kita sepakati,” katanya. “Sayangnya belum sempat saya sowan ke sini, Jeng Ningtyas keburu lapor polisi.”
“Bung kasih berlian palsu buat borg, makanya saya lapor polisi. Tidak salah, toh?”
“Oh, tidak salah. Saya berterima kasih Jeng Ningtyas menyelamatkan saya. Jika tidak, saya tidak bisa bayangkan apa yang saya alami sekarang.”
Ningtyas mengambil amplop itu dan menghitung isinya dengan cepat.
“Cukup. Bung sudah melunasi semua tanggung jawab Bung. Nanti saya buatkan kuitansinya. Tapi cincin beling itu masih ada di kantor polisi.”
“Biar saja itu tanda mata buat Inspektur Pieter van Hofman. Apa saya betul mengeja namanya?”
“Betul, tetapi nada Bung menyebutkan nama itu kurang enak. Seperti menyimpan rasa sakit atau dendam.”
“Logis, toh? Saya ini bumi putra, dia penjajah yang sejak nenek moyangnya sudah merampok isi bumi Nusantara. Jeng Ningtyas setuju?”
“Saya tidak usah menjawabnya. Sikap saya terhadap semua itu adalah hak pribadi saya.”
“Setuju. Jadi sekarang kita damai, ya? Tidak ada permusuhan lagi?”
“Kita lihat saja nanti bagaimana Bung bisa jaga sikap dan perbuatan.”
Jiwat mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Ningtyas tidak segera menjabat tangan itu. Memandangi sesaat wajah Jiwat, seperti sedang menaksir apa sebenarnya maunya orang ini.
Di ruang dalam Dalem Pandukusuman, R.M. Pandukusumo mengacungkan jempol ke arah istrinya. Den Ayu Pandu menghampiri suaminya dan bicara dengan berbisik-bisik. Den Ayu Pandu memanggil suaminya dengan sebutan Kangmas, sementara sang istri dipanggil Diajeng oleh R.M. Pandukusumo. Atau kadang-kadang juga Bune saja.
“Kelihatannya pemuda seberang itu bisa melunakkan hati Ningtyas, ya Kangmas?”
“Maksudmu melunakkan itu apa?”
“Paling tidak Ningtyas bisa bicara sopan kepadanya. Tidak seperti biasanya, dia kan ketus dan kata-katanya nyelekit.”
“Terus Bune mikir macem-macem, ya?”
“Macem-macem bagaimana, Kangmas?”
“Ingin ngambil mantu anak seberang itu.”
“Ah, ya tidak sampai ke sana. Tapi kalau memang jodohnya, ya terserah saja. Dalem juga sudah kepingin momong cucu dari anak perempuan, kok Kangmas.”
“Biarpun dia anak seberang yang tidak kita ketahui sanak keluarga dan siapa leluhurnya?”
“Ndak apa-apa, pokoknya dia orang Indonesia.”
“Sst! Anaknya datang!”
Terlambat. Ningtyas sudah masuk ke ruangan itu untuk mengambil buku kuitansi. Ia sempat mendengar ucapan romo dan ibunya.
“Pieter tetap lebih baik karena dia punya profesi dan masa depan daripada petualang yang tidak jelas,” katanya sambil lalu.
R.M. Pandukusumo berpandangan dengan istrinya. Menahan geli juga karena kikuk ketahuan menggosip.

***

Guntur melemparkan buah mangga muda tinggi-tinggi ke langit. Jiwat mengacungkan senapan locok itu ke arah langit, tapi dia menghadap ke belakang. Dia menembak. Buah mangga itu hancur berantakan dihajar peluru. Jatuh ke tanah dalam kepingan-kepingan yang tak jelas bentuknya.
Joleno bertepuk tangan karena kagum. Bagaimana Jiwat bisa menembak dengan membelakangi sasaran sungguh ajaib. Seolah dia punya mata di tengkuknya.
“Tidak usah heran,” kata Jiwat tanpa maksud merendahkan diri. “Peluru senapan ini menyembur dengan butiran-butiran yang menyebar. Jadi, target yang berada di dalam lingkaran semburannya pasti akan kena.”
“Tapi menembak dengan membelakangi target tetap mengagumkan,” kata Guntur jujur. “Bagaimana Mas Jiwat bisa semahir itu menggunakan senapan?”
“Dimas juga bisa kalau mau. Tapi terus terang senapan ini sudah terlalu tua untuk Dimas. Zaman Diponegoro dulu sudah ada senapan sejenis ini.”
“Memang ini senapan kuno peninggalan almarhum kakek buyut saya. Terakhir yang menggunakannya Eyang Pandu.”
Jiwat tahu riwayat senapan sejenis itu. Namun, dia tidak tahu bahwa Guntur menyukai senapan itu karena sangat mengagumi kakeknya dan berusaha memirip-miripkan dirinya dengan Eyang Pandu. Perilaku itu sebagai manifestasi dorongan bawah sadarnya untuk mendapat pengakuan bahwa dia memang cucunda R.M. Pandukusumo.
Pembicaraan soal senapan di halaman belakang Dalem Pandukusuman itu berpindah topik sampai ke soal grup keroncong yang belakangan ini kurang aktif.
“Kenapa tidak dihidupkan lagi, Dimas? Keroncong itu musik budaya kita. Di kampung saya juga ada grup keroncong seperti itu. Di Ambon, Maluku, Batavia, semua ada. Di Jawa seharusnya lebih banyak.”
“Banyak pemainnya yang tidak ketahuan lagi keberadaannya. Mungkin saya bisa menghubungi mereka kecuali pemain biolanya yang sudah meninggal.”
“Saya bisa dapatkan pemain biola yang bagus. Tapi maaf, saya harus mengatakan sesuatu yang kurang enak.”
“Apa misalnya?”
“Pemain biola itu orang kebanyakan yang … yah, katakanlah hidupnya susah sekali. Maksud saya, apa Pak Pandu bisa menyediakan barang sekadar honorarium baginya? Maklum, dia sangat membutuhkan itu.”
“Semua pemain memang diberi sekadar uang transpor setiap kali latihan. Kalau ada acara manggung, mereka juga mendapatkan honorarium. Tapi ya tidak seberapa, cuma sebagai ganti ongkos jalan atau semacam itulah.”
“Bisa digunakan untuk beli sekaleng susu?”
“Tentu bisa. Kalau pemain yang Mas Jiwat bilang itu perlu uang transpor khusus yang lebih baik daripada yang lain, bisa dibicarakan dengan Eyang. Intinya Eyang bikin grup keroncong itu hanya untuk menghidupkan musik keroncong itu. Dulu digunakan juga untuk sarana pertemuan para pemuda.”
“Aktivis perjuangan, maksudnya?”
“Jangan bilang begitu sama Inspektur Pieter van Hofman, ya.”
Jiwat tertawa. Dia paham apa sebenarnya grup musik keroncong itu. Namanya saja ‘Orkes Keroncong Kembang Setaman’. Nama Kembang Setaman itu tidak sembarang dipasangkan di sana. Itu kata sandi yang mengandung pengertian grup itu terdiri dari orang-orang yang beragam suku dan agamanya, bagai kembang setaman yang beragam warna dan jenisnya. Orang Ambon, Sumatra, Cina, semua ada.
Di benak Jiwat terbayang wajah Damar Galih sumringah dengan sekaleng susu di tangannya. (Bersambung.....)



Komentar Facebook