CINTA DUA PEREMPUAN bag. 1 Seatap Dua Cinta

CINTA DUA PEREMPUAN bag. 1 Seatap Dua Cinta

Sungguh dua perempuan itu masing-masing punya cinta. Keduanya tak bisa sama, baik versi maupun intrik-intriknya. Mereka tinggal seatap, di rumah besar milik R.M. Pandukusumo. R.M. di depan nama itu kepanjangan dari Raden Mas, titel kebangsawanan di Jawa. Rumah besar itu disebut Dalem Pandukusuman, artinya puri R.M. Pandukusumo.
Ini memang cerita tentang kaum priayi (bangsawan) dan rakyat jelata yang telah sama-sama muak terhadap kaum penjajah di negeri ini. Tahun peristiwanya antara 1940 sampai lima tahun kemudian ketika Tuhan memberkahi Indonesia dengan kemerdekaan yang diproklamasikan pada hari Jumat di bulan Ramadan. Dalam kurun waktu itu ada balatentara Jepang yang mengacak-acak tatanan hidup di negeri ini. Maka, bisa dibilang cinta dua perempuan itu terentang dalam tiga zaman.
Rumah besar itu berada di salah satu bagian kota Solo, berada di tengah perkampungan, dengan nama yang berbeda-beda.
Hubungan keluarga antara dua perempuan itu juga agak kusut bila diuraikan. Yang satu bernama Kencana Puri, yang seorang lagi Kusumaningtyas dengan titel R.R (Raden Roro) di depannya. Singkatnya, Puri adalah keponakan Ningtyas secara biologis, tetapi tidak ada pengesahan tertulis yang diakui. Usia mereka beda dua tahunan, Ningtyas lebih tua. Tahun ini Puri sembilan belas tahun.
Cinta Puri sangat klasik, cinta yang lurus-lurus saja untuk seseorang yang kini hilang entah di mana, Sasongko namanya. Sasongko itu artinya bulan. Sama seperti sifat bulan, Sasongko itu kadang tampak kadang tidak, tapi dia ada entah di belahan bumi bagian mana. Sudah dua tahun ini Sasongko hilang bagai malam gelap bulan yang berkepanjangan. Terakhir bertemu, Sasongko datang ke rumah besar itu menuntun sepeda ontanya yang tak bermerek. Ia duduk di pendopo, bagian rumah besar itu yang tidak berdinding hanya beratap joglo dan berlantai tinggi. Dia ingin membicarakan tentang banyak hal, tapi mulutnya kelu. Di hadapan Puri memang dia selalu kehilangan kata-kata, sekalipun sebelum bertemu dia sudah merangkai banyak sekali kata yang bisa diucapkan. Lebih-lebih sekarang ini dia akan membicarakan hal yang paling berat bagi kehidupan cintanya.
“Mungkin aku akan pergi lama, Jeng,” katanya saat itu. Pergi lama itu apa, mungkin Sasongko yang salah mengucapkan karena gugup. Setiap kali berhadapan dengan Puri dia memang selalu gugup mengingat dirinya siapa dan Puri adalah putri priayi yang punya kelas sosial tersendiri.
“Mas Sasongko mau tindak ke mana?” tanya Puri. Ia mengucapkan kata pergi dengan tindak sebagai penghormatannya kepada Sasongko, sekalipun pemuda itu hanyalah anak petani miskin, rakyat kebanyakan yang tidak punya status sosial.
“Aku … rencananya aku mau sekolah lagi, Jeng.”
“Sekolahnya di mana kok sampai pergi lama?”
“Yogya.”
“Yogya kan dekat dari Solo, Mas?”
“Iya … tapi menjadi jauh karena … eh karena aku tidak bisa ke sini-sini lagi menemui Jeng Puri.”
Kenapa begitu? Inilah yang tidak bisa diucapkan oleh Sasongko. Tak punya nyali dan tidak ada keberanian yang cukup untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Bahwa dia akan disekolahkan oleh seorang juragan tembakau yang kaya raya dan hanya punya seorang anak gadis yang penyakitan. Sasongko bisa sekolah sampai harus ke jabalkat pun bisa, asalkan dia mau menikahi Sundari, anak sang juragan tembakau yang kena TBC parah dan menderita polio sejak kecil.
Sasongko ingin bersekolah sampai tinggi, paling tidak akan bisa mengubah sejarah leluhurnya yang cuma petani miskin, yang terjajah bukan saja oleh kolonial, tetapi juga oleh nasib buruk terus-menerus sejak zaman Pangeran Diponegoro mempertahankan tanah perdikannya di Selarong.
Itu tidak seberapa, cuma alasan pribadi yang kecil saja dibandingkan dengan utang nyawa Mbok Sugemi, simboknya Sasongko, yang kena penyakit cacar parah dan juragan tembakau itu yang membiayainya di rumah sakit hingga sembuh. Sayang di kemudian hari Mbok Sugemi tewas ketiban pohon kelapa padahal dia sudah sembuh dari cacarnya.
Ini persoalan balas budi dan sebagai bakti Sasongko kepada simboknya, maka ia menerima tawaran Joyodikromo, sang juragan tembakau yang sampai memohon-mohon agar Sasongko sudi menikahi anaknya yang penyakitan.
Akan tetapi, bagaimana bisa mengutarakan semua itu? Sasongko tidak sanggup bicara lebih lanjut. Dia berpamitan dan menyangka itu adalah terakhir kalinya ia bisa menatap gadis yang sesungguhnya teramat dicintainya itu. Ia menuntun sepedanya ke gerbang melewati halaman rumah besar yang dikelilingi tembok tinggi bagai sebuah keraton itu. Sasongko sadar, kacamata bundarnya lembap karena uap keringat dan sedikit air mata. Ia melepaskan kacamata itu dan menyeka kacanya dengan sapu tangan. Sepedanya disandarkan ke lambungnya sendiri.
Gluar! Ada bunyi ledakan keras yang mengejutkannya. Kacamata terlepas dari tangan, jatuh dan kacanya pecah. Sasongko memungutnya dengan sedih. Bagaimana dia bisa membeli ganti kacamata dengan kemiskinan yang sampai ke dasarnya ini?
“Maaf, Den. Itu tadi Denmas Guntur sedang latihan nembak,” ucap seorang laki-laki tua yang berlari-lari dari arah belakang rumah lewat halaman samping. Lelaki tua itu bernama Joleno, nama yang punya arti jangan lengah. Sesuai dengan namanya, dia adalah seorang pesuruh sekaligus satpam tanpa seragam yang harus menjaga segala keamanan rumah besar dan isinya itu. Status Joleno di rumah besar itu adalah abdi yang secara ekstrem bisa diartikan sebagai budak.
Sasongko merasa risi dengan sebutan Den yang diucapkan Joleno. Sebutan yang tidak semestinya diarahkan kepadanya, meskipun Joleno mengucapkan itu tak lebih sekadar menghormati tamu majikannya.
“Oh, Dimas Guntur sedang latihan nembak?”
“Inggih, Den.”
Latihan nembak apa sampai terdengar ribut-ribut di belakang itu? Ningtyas sedang marah-marah, memarahi Guntursewu, adik Puri. Guntur memegangi senapan locok yang ujungnya masih mengepulkan asap. Jauh di arah belakang sana ada sebuah guci keramik berantakan habis dihajar pelor senapan Guntur. Itu yang bikin Ningtyas marah-marah begitu. Peluru senapan locok itu menyembur sehingga guci keramik bisa hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
“Koppig!” seru Ningtyas dengan bahasa Belanda yang selalu diucapkannya sepotong-sepotong sebagai status intelektual yang patut dibanggakan. “Kamu tahu guci itu dinasti Ming punya peninggalan leluhurku? Inspektur van Hofman mau bayar itu seratus gulden, tahu!”
“Terus apa masalahnya kalau dalem jadikan dia sasaran tembak?” jawab Guntur dengan nada sinis bahkan menantang. Guntur menyebut dalem sebagai kata ganti saya meskipun dia tidak benar-benar menghormati tantenya itu. “Pemilik guci itu juga leluhur dalem. Ada bagian dari guci itu yang jadi milik dalem.”
“Je bijn hek!” Ningtyas memaki, mengatai keponakannya gila. “Tidak ada surat keterangan yang bikin pengakuan kamu itu benar! Kamu cuma anak gundik!”
“Tapi romo dalem tetap Raden Mas Dewobroto kangmasnya Tante, kan? Jadi dalem tetap memiliki sebagian dari guci itu.”
Itu memang tidak bisa dimungkiri. Ayah Guntur ini adalah R.M. Dewobroto, anak sulung R.M. Pandukusumo. Hanya dulu status ibu Guntur cuma gundik, perempuan yang tak pernah dinikahi secara resmi dengan surat nikah dan tak sengaja sampai melahirkan dua orang anak, Puri dan Guntur. Kini R.M. Dewobroto sudah menikah dengan perempuan blasteran Belanda bernama Mieske van Blijenburg. Romo Dewo, R.M. Dewobroto itu, seorang wedana, jabatan dalam pemerintahan Hindia Belanda yang cukup bergengsi. Dan Mbok Sayem, mantan gundik itu kini menjadi babu di rumah besar itu, rumah yang sebenarnya milik mertuanya karena dia dinikahi R.M. Dewobroto secara agama. Karena statusnya cuma gundik dan kemudian babu, maka R.M. Pandukusumo itu adalah ndoro-nya. Anak-anaknya, Puri dan Guntur, menjadi cucu R.M. Pandukusumo tanpa status yang diakui, paling tidak oleh Ningtyas. Gadis dua puluh satu tahunan ini memang ekstrem dan telengkas. Kata-katanya pedas, sekalipun kadang itu kebenaran yang secara budaya harus disamarkan dengan basa-basi.
“Sudah, Ningtyas! Tidak usah bicara ke mana-mana cuma karena guci yang sudah pecah,” kata R.M. Pandukusumo, yang sering disebut Eyang Pandu dan istrinya disebut Den Ayu Pandu.
“Selalu begitu toh, Romo? Apa pun kalau Guntur yang bikin ulah, selalu dibela. Anak babu itu jadi besar kepala dan semakin ugal-ugalan!” sahut Ningtyas tandas. Mestinya tak patut putri priayi bicara keras seperti itu terhadap ayahandanya.
“Kamu juga, Ning. Putri priayi kok mulutnya jahat begitu.” R.M. Pandukusumo menyesali putri bungsunya.”Seperti mulut wong pidak pedarakan.”
Wong pidak pedarakan itu ungkapan untuk menggambarkan orang yang tak jelas asal usulnya, yang pasti dari kasta rendah dan tidak terhormat.
“Dalem ini putri Romo dan Ibu. Kalau dalem ternyata tidak pantas, pasti ada yang salah, Romo.”
“Apa maksudmu?”
“Apa benar dalem putri Romo dan Ibu.”
“Masya Allah, Ning! Kamu sudah tambah kacau!”
Itu bisa menjadi perdebatan panjang yang makin meyakinkan kekurangajaran Ningtyas yang tak laik sebagai putri priayi. Padahal nama Kusumaningtyas itu mengandung pengertian bunganya kepribadian.
Di halaman depan rumah, Puri berlari turun dari pendopo menemui Sasongko.
“Kacamatanya jadi pecah, ya Mas?” kata Puri penuh sesal karena bunyi menggelegar hasil perbuatan adiknya yang bengal. “Maaf, gara-gara Guntur kacamatanya sampai pecah.”
“Tidak apa-apa, Jeng. Kebetulan kacanya memang harus diganti, kok. Sudah tidak cocok.”
“Tapi …. Mas Sasongko percaya tidak, kacamata pecah itu pertanda buruk.”
“Pertanda buruk apa?”
“Apa saja. Jangan-jangan kita akan … ah mudah-mudahan tidak. Kita hanya akan berpisah lama saja. Akan ketemu lagi, kan?”
“Iya. Jangan percaya takhayul.”
Kenyataannya berpisah lama itu menjadi sangat lama, hingga kini belum juga ada akhirnya. Dua tahun sudah berlalu.
Gutursewu, si manusia gelisah yang selalu bikin onar dan musuh besar Tante Ningtyas itu, sering menanyakannya kepada Puri mengapa gerangan Kangmas Sasongko tak pernah datang lagi. Guntur memanggilnya Kangmas dengan penuh rasa hormat karena impiannya Sasongko itu bakal menjadi kakak iparnya. Dia cukup ganteng dan berpenampilan priayi dengan kacamata bundar yang pas sekali menghiasai wajahnya. Kalaupun Sasongko cuma rakyat jelata, tak apa Guntur tidak pernah mempersoalkannya. Ibunya sendiri, Mbok Sayem itu, adalah juga orang kampung dari gunung yang sinengkakake ing ngaluhur atau diangkat derajatnya dengan dijadikan gundik R.M. Dewobroto.
Itulah sesungguhnya kisah sedih orangtuanya, kisah yang kemudian menyebabkan Guntur menjadi anak muda yang ugal-ugalan, manusia gelisah dan tukang bikin onar. Itu merupakan protes pribadinya terhadap keberadaan dirinya. Itu terjadi karena budaya lokal kaum priayi ketika itu. Bahwa seorang priayi muda harus diamankan dari kemungkinan petualangan kegairahan kemudaannya demi menghindari pencemaran nama baik dan penyakit sipilis. Untuk itu didatangkanlah Sayem yang saat itu berumur enam belas tahunan sebagai teman intim R.M. Dewobroto. Ini kesalahan, karena lazimnya teman intim itu seorang perempuan janda yang umurnya lebih tua daripada si anak priayi sehingga gundik itu bisa mengajarkan segala hal kepada si anak priayi. Gundik itu merupakan guru privat yang bertugas dalam kurun waktu tertentu dan tidak sampai punya anak. Dia akan mendapatkan honor dari profesinya itu. Sayem menjadi gundik yang terakhir di keluarga itu. Mungkin dia juga satu-satunya gundik yang dinikahkan oleh seorang kiai dengan wali ayah kandungnya. R.M. Setobroto, adik R.M. Dewobroto, tidak mengalami kesenangan itu. Dia menikah baik-baik dengan perempuan baik-baik dan berpendidikan tinggi.
Kini Mbok Sayem mengabdi di rumah besar itu karena dia tidak sampai hati harus meninggalkan anak-anaknya setelah masa tugasnya berakhir. Dia juga merasa tak bisa hidup karena di kampungnya tidak ada siapa-siapa lagi, tidak pula ada apa-apa lagi yang bisa digunakannya untuk melanjutkan hidup. Maka, dia tetap menjadi ibu bagi anak-anak priayi yang dilahirkannya. Anak-anak yang menghormatinya sebagaimana mestinya, tidak sebagai perempuan yang cuma bertugas jadi ayam petelur.
Peristiwa guci antik itu dilaporkan oleh Ningtyas kepada kangmasnya, R.M. Dewobroto sang wedana Hindia Belanda, di rumah dinasnya yang besar.
“Anak babu itu sudah keterlaluan, Kangmas. Dia sudah tidak punya kendali. Semua tindakannya bikin rusak aturan. Dia musti dibawa ke rumah sakit jiwa!” kata Ningtyas berapi-api. Dia tidak sadar kalau yang diajak bicara itu bapaknya anak babu yang pantas dibawa ke tempat orang gila dirawat.
“Ik allemaal houd niet!” dengus R.M. Dewobroto, menyatakan rasa tak senangnya mendengar semua yang dilaporkan Ningtyas. “Kangmas tidak punya anak gila!”
“Ik spreek goed! Dalem bicara benar, Kangmas. Guntur sudah kacau.”
“Panggil dia ke sini.”
Ningtyas menyampaikan panggilan itu dengan suka cita. Merasa bisa menggiring anak kambing ke pejagalan.
“Kangmas Dewo akan bikin kamu mampus!” katanya. Sungguh kasar dan tak patut mulut priayi mengucapkan kata jorok itu. Tapi priayi ini bernama Ningtyas, si telengkas bermulut sangar.
Guntur datang sowan romo-nya naik sepeda motor BSA warna merah bata.
“Benar semua yang dikatakan Ningtyas tentang kamu?” tanya R.M. Dewobroto kepada putranya, yang sesungguhnya membuatnya ngeri bila Guntur sudah meneriakkan protesnya dengan cara yang tak elok.
“Benar, Romo. Dalem memang anak gundik dan babu. Jadi, salah siapa menjadi begini?”
Guntursewu itu nama yang punya arti seribu halilintar. Maka bak seribu halilintar pulalah yang menggelegar di atas kepala R.M. Dewobroto dengan ucapan anaknya itu.
Ternyata benar kata Ningtyas, Guntur sudah gila. Namun, untuk mengirimkannya ke rumah sakit jiwa, sungguh memalukan.     
Hari itu tidak ada keputusan apa-apa mengenai ini. Mieske bilang, “Oh, nee! Dat is verboden, Papi. Jangan kirim Guntur ke rumah sakit jiwa. Anak itu cuma sakit. Tidak gila.”
Begitulah, Guntur yang sakit tapi tidak gila itu terus bikin ulah. Eyangnya, R.M. Pandukusumo itu, tetap sayang luar biasa kepadanya. Sebab Guntur satu-satunya cucu lelaki R.M. Pandukusumo. Cucu-cucunya yang lain, baik dari R.M. Dewobroto maupun R.M. Setobroto, semuanya perempuan. Rasa sayang yang berlebihan itu mungkin juga karena dilatarbelakangi oleh perasaan bersalah R.M. Pandukusumo karena dulu mendatangkan Sayem dari gunung hingga lahirlah anak ugal-ugalan yang sakit.
Tidak demikian halnya dengan Kencana Puri. Dialah gambaran putri priayi yang sebenarnya, seolah bukan Mbok Sayem ibunya. Gadis santun berambut panjang dan berwajah sendu, menjadi lebih pas bergelar Raden Roro daripada Ningtyas yang brak-brek-brok tak jelas. Rambut Ningtyas pun dipotong pendek seperti noni-noni Belanda. Tingkahnya lebih belandis daripada noni-noni Belanda sendiri. Sampai pacaran pun dengan Inspecteurs (Inspektur) Pieter van Hofman, kepala polisi Hindia Belanda seolah tak ada lelaki pribumi yang layak untuk dicintainya.
Di rumah besar itu ada grup musik keroncong yang secara berkala mengadakan latihan. Sebenarnya ini sebuah kamuflase bagi para pemuda yang mengadakan rapat-rapat antipenjajahan. Para pemainnya adalah pemuda-pemuda nasionalis yang mengadakan gerakan bawah tanah untuk ikut memberi sumbangsih bagi kemerdekaan Indonesia. Setiap latihan diadakan, Joleno berjaga di dekat pintu gerbang sambil memegangi tali yang dihubungkan dengan sebuah genta. Jika situasi gawat karena ada patroli polisi, Joleno akan menarik tali dan genta yang digantung di ruang rapat akan berbunyi. Maka, para pemuda yang lagi rapat segera berloncatan memegang alat musik masing-masing lalu mengalunlah lagu keroncong yang syahdu.
Pernah suatu ketika terjadi kedodoran gara-gara Joleno mengantuk di tempat jaganya. Inspektur Pieter van Hofman datang bersama seorang ajudannya ketika rapat sedang seru-serunya. Waktu itu malam Minggu, sekitar jam sembilan malam. Ningtyas yang melihat kedatangan sang inspektur dari jendela kamarnya, segera melemparkan sisir ke pintu ruang rapat untuk memberi isyarat kepada para pemuda yang sedang rapat di situ. Lalu dia berlari menyongsong dan berseru keras-keras menyambut sang inspektur agar para pemuda di ruang rapat mendengarnya.
“O, mijn schat. Goede avond,” sapanya, seperti seseorang menyapa kekasihnya dan mengucapkan selamat malam.
Itu sebenarnya kecelakaan. Ningtyas menyebut mijn schat (kekasihku) tanpa sadar, karena gugup dan berusaha melunakkan hati inspektur muda itu berhubung sang inspektur hampir saja memergoki aksi gerakan bawah tanah.
Ningtyas memperkuat aksinya dengan menyanyikan sebuah lagu yang populer saat itu, ‘Als de Orchideen Bloeien’ diiringi musik keroncong yang pemainnya barusan pecicilan karena kepergok musuh. Suaranya tidak merdu, tapi lagu tentang bunga anggrek yang mulai timbul itu bikin hati Inspektur Pieter van Hofman berbunga-bunga. Gara-gara itulah kemudian Pieter meyakinkan dirinya sebagai kekasih Ningtyas.
“Ini musik bisa siaran di NIROM!” katanya memuji. NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij) adalah radio pemerintah Hindia Belanda yang siaran di Indonesia.
Sebenarnya bagaimana perasaan Ningtyas terhadap Belanda muda itu, tak ada yang tahu. Nyatanya dia manut saja ketika Pieter mengajaknya dansa di sositeit, gedung kesenian tempat para pembesar Belanda rileks.
    Di markas dan di tangsinya, Pieter selalu menyanyikan lagu kenangan itu.

“Als de orchideen bloeien. Dann denk ik de reg an jou. An lieve herren nau reinne. Lecker summersen met jou ….”

Dan masih panjang lagi. (bersambung....)



Komentar Facebook