TADARUS AL-QURAN

TADARUS AL-QURAN

Dalam mengisi ibadah Ramadhan, umat Islam bisanya melakukan pembacaan Alquran (tadarrus) lebih intens ketimbang bulan-bulan lainnya. Disamping sebagai salah satu sarana agar tujuan saum bisa terengkuh tadarrus juga menjadi ‘ruang” pelepasan kerinduan kaum Muslimin untuk “bereuni” dengan kitab sucinya pada bulan momentum yang sangat tepat dan penuh berkah.

            Tadarus berperan juga sebagai medium untuk mengekang dan memenjarakan lidah dari perkataan-perkataan jahat (aqwl al-zur) yang dapat merusak nilai-nilai shaum serta menghanguskan pahalanya.

            Nabi Saw bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan-ucapan dan perilaku jahat, niscaya Allah Swt tidak akan menghargai usaha menahan lapar dan hausnya.” (H.R Bukhari)

            Dalam riwayat Al-Nasai disebutkan, “ betapa banyak orang menjalankan ibadah puasa, tapi tidak memetik buahnya kecuali hanya rasa lapar dan haus.”

            Tadarus yang dapat mengkondisikan tercapainya tujuan shaum, tentu bukan yang asal khatam (selesai) dibaca secara tergesa-gesa. Dalam hal ini, Sayyid Abi Bakr, dalam kitabnya Hasyiah I’anah Al Thalibin memperagakan metodenya, yakni si A yang membaca Alquran  didengarkan oleh si B; ketika si A sudah lelah, gantian si B membaca dan si A mendengarkan ( (bi anyaqra’a ‘ala ghairi wa yuqra ‘alaih ghairuh).

Metode pembacaan atau tadarus yang demikian sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim, telah dipraktikkan oleh Nabi Saw pada bulan Ramadhan dengan Malaikat Jibril secara bergantian. Sehingga kemungkinan akan jatuh pada “pembacaan” yang salah dan keliru bisa dikoreksi.

            Tentang keutamaan tadarus Alquran ini, Nabi Saw bersabda, “ Bacalah Alquran sebab kelak  di hari kiamat  akan memberi syafaat bagi pembacanya.” “Sebaik-baik ibadah umatku adalah men-tadarus-kan Alquran.” Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang berbicara tentang keutamaan (fadhilah) bertadarus Aiquran pada bulan Ramadhan.

            Waktu yang paling utama (afdhal) saat-saat tadarus adalah waktu  ba’da subuh, antara shalat Magrib dan Isya, serta waktu sahur. Menurut Imam al-Nawawi, tadarus pada malam hari lebih utama lagi (aula) sebab akan lebih terkonsentrasi dan terpusat pada apa yang dibaca, sehingga hati betul-betul menyatu dengan Alquran ( hadlir al-qalbma’ah).

            Mengenai riwayat dari Abu Daud dari Muadz ibn Wafa[‘ah yang menyatakan bahwa tadarus setelah shalat Ashar hukumnya makruh, karena menyerupai tadarusannya orang-orang Yahudi. Hadis ini dalam tinjauan mayoritas ulama Syafi’I, tertolak dan tidak mempunyai Landasan yang kuat (ghair maqbul la ashla lah)

            Di samping itu, kata Syid Abi Bakr bertadarus harus juga mengikut sertakan unsur tadabbur ( berpikir, menziarahi setiap relung makna Alquran dan tafahhum ( mengambil pemahaman dari apa yang sedang dibaca). Mufassir besar, Imam Al-zamakhsyari—dalam kitab tafsirnya yang monumental, Al-Kasysyaf an Haqaiq Al- Al Tanzil wa ‘uyun Al- Aqawil fi Wujuh at- Ta’wil—mengatakan, “jika kita tadarus tanpa melibatkan tadabbur dan tafahhum, selamanya tidak akan sampai pada pengetahuan (al-ilm) dan kebijakan (al-irfan )  dari apa yang ada dan tersembunyi di balik teks-teks ayat Alquran, yakni berupa takwil-takwil (metafor) yang sahih dan makna-makna yang indah)”.

            Orang yang merasa puas haya dengan tadarus, dia tidak akan mendapatkan manfaat banyak dengan hal seperti itu, dan perumpamaan dia, tak ubahnya sapi yang melimpahkan air susunya, tetapi tidak pernah diperah, atau laksana kuda betina yang mempunyai bakal anak banyak, namun tidak pernah melahirkan.

            Tadarus yang disertai tadabur dan tafahhum dipesankan Alquran: “Inilah kitab yang Kami turunkan kepada engkau lagi diberkahi supaya mereka memikirkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat peringatan orang-orang yang berakal.” (QS. Shad: 29)

            Imam Ali memberikan catatan yang cukup menarik. Menurut beliau, tidak ada kebajikan bagi kerja tadarus yang tidak melibatkan tadabur, sebab Alquran  diturunkan tidak lain untuk dipikirkan dan hanya “wisata nalar” (tadabur) yang akan menyampaikan seseorang pada pemahaman (tafahum) terhadap apa yang diinginkan Alquran dan ini merupakan wasila (perantara) bagi tersibaknya koridor ilmu dan amal.

            Sekali lagi, tadarus Alquran yang dihukumi sunat muakkad, pada bulan Ramadhan, mesti kita sertai dengan deminsi tadabur dan fahhunm. Sehingga pada gilirannya dialektika “3-T” tersaebutlah yang bisa mengakses pada pembumian nilai-nilai Alquran dalam sejarah semesta raya kemanusiaan.

            Sebutlah tadarus yang capaiannya mentransformasikan kemarau kamar jiwa si qari yang shaim kepada ruang batin yang dilimparuahi kekayaan rahmah, maghfirah, dan itah dari Allah Swt, bersemayam untuk selamanya. Dan akhirnya terpantul dari setiap gerak kita aura keilahian: rahmatan li alamin. Walah’alam bi ash-shawab.

(Asep Salahuddin)                                

           



Komentar Facebook