IBRAHIM dan KETURUNANNYA

IBRAHIM dan KETURUNANNYA

Ada dua bangsa yang mengaku sebagai keturunan Nabi Ibrahim A.S., yaitu bangsa Yahudi dan bangsa Arab ( suku Quraish). Bangsa Yahudi diturunkan dari garis yang bergelar Israil (artinya, Hamba Allah). Karena itu Nabi Yahudi juga disebut Bani Israil (artinya, Anak cucu Israil).

Ishaq adalah putra Ibrahim dari istrinya, Sarah. Tetapi sebelum beranakkan Ishaq, Ibrahim telah beranakkan Ismail dari istrinya yang muda, Hajar, seorang berkebangsaan Mesir yang dihadiahkan oleh Fir’aun. Dia dinamakan Ismail, dari bahasa Ibrani Ishmael, yang artinya “Allah telah mendengar,” karena Ibrahim, memandangnya sebagai bukti bahwa Allah telah mendengar doanya untuk mempunyai keturunan.

Maka tidak heran Ibrahim sangat mencintai anaknya, Ismail itu. Tetapi kecintaannya itu telah mengundang ketidak senangan Sarah, istri pertamanya yang kemudian meminta Ibrahim untuk membawa mereka, ibu dan anak itu, keluar dari rumah tangganya. Ismail dan ibunya, Hajar dibawa Ibrahim ke Makkah, dekat Rumah Allah (Bayt Allah), sesuai dengan petunjuk Allah sendiri. Di sanalah Ibrahim dibesarkan, kemudian berumah tangga dengan wanita Arab suku Jurhum, yang kemudian menurunkan bangsa Arab Quraish, penduduk Makkah dan suku Arab yang paling terkemuka.        

Dari suku Quraish itu kelak tampil Rasul Allah yang penghabisan, Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam. Setelah itu terjadilah “Ledakan Bangsa Arab” ( Arab explosion),yaitu ketika bangsa Arab di bawah bendera Islam dengan kecepatan yang luar bisa menaklukkan “daerah jantung” (heart land) dunia, yang terbentang dari lautan Atlantik di barat sampai Tembok Cina di Timur.

Akan halnya bangsa Yahudi yang tinggal di kawasan Kana`an dan Mesir, yang tampil dari mereka tidak hanya seorang Nabi, tetapi banyak Nabi yang kini nama-nama mereka menghiasi kitab-kitab suci Taurat, Injil, dan Alquran. Tetapi bangsa Yahudi tidak pernah benar-benar jaya.  Bahkan sejak tahun 70 Masehi mereka mengalami diaspora, yaitu mengembara terlonta-lonta di muka bumi, tanpa tanah air. Sebab Bait al-Maqdis atau  Yurusalem telah dihancurkan oleh kaisar Titus dari Roma, dan setelah Byzantium menjadi Kristen seluruh Palestina dikuasainya dan orang Yahudi dilarang tinggal di sana. Hal itu berlangsung terus sampai Yuresalem jatuh ke tangan orang-orang Arab Muslim zaman “Umar Ibn al-Khaththab. Maka oleh Islam kota suci itu dibuat terbuka juga untuk kaum Yahudi, dan mereka diizinkan tinggal di sana, menempati “kapling’ yang telah ditentukan. Kaum Kristen minta agar kaum Yahudi itu tetap tidak dibolehkan bercampur dengan kaum Kristen, dan Umar memenuhi permintaan itu.

Mereka kaum Yahudi hidup bebas di zaman kekuasaan Islam selama berabad-abad. Mereka menjadi penduduk kosmopolit, artinya dengan penuh kebebasan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk berbagai keperluan, terutama keperluan berdagang. Dalam pelukan kekuasaan Islam mereka itu bahagia sekali, lebih-lebih jika dibandingkan dengan keadaan mereka di bawah kekuasaan Kristen Eropa.

Karena itu sungguh ironis bahwa sejak tahun 1948 mereka merebut dan menjajah sewenang-wenang tanah Palestina, yaitu bangsa yang sejak dahulu telah tinggal di situ (meskipun kemudian disebut bangsa Arab, karena berbahasa Arab). Itulah zalimnya Yahudi, yaitu kezaliman kaum yang tidak tahu berterima kasih kepada bangsa Arab yang telah menyelamatkan dan melindungi mereka selama ratusan tahun. Dan karena hukum Allah tidak akan berubah, yaitu hukum bahwa “ yang salah pasti seleh (hancur),”  maka dengan kezalimannya itu bangsa Yahudi sebenarnya sedang menggali liang kuburnya sendiri. Ini sejalan dengan peringatan tersirat dari Allah kepada Nabi Ibrahim: “Dan Ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan berbagai perintah, kemudian dipenuhinya dengan sempurna. Lalu Tuhan bersabda: Sesungguhnya Aku menjadikan engkau (Ibrahim) pemimpin untuk manusia, Ibrahim menyahut; Dan juga dari keturunanku? Tuhan Menjawab, Perjanjianku ini tidak berlaku untuk mereka yang zalim” (QS. Al-Baqarah./2:124).           

                 (Dr. Nurcholish Majid)

 



Komentar Facebook